Sabtu, 12 September 2026

Review Film Agensi Rumah Tangga: Nonton di BIP Bareng Teh Efi, Ternyata Sehibur Itu!

Review Film Agensi Rumah Tangga: Nonton di BIP Bareng Teh Efi, Ternyata Sehibur Itu!

Tianlustiana.com - Ada kalanya kita pergi ke bioskop bukan karena sedang mencari film yang berat atau ingin dibuat mikir sampai pulang. Kadang cuma ingin duduk manis, makan dulu, nonton, ketawa, lalu pulang dengan perasaan yang lebih ringan. Ya, karena akhir - akhir ini pekerjaan di kantor menguras otak dan emosi, jadi saya butuh tontonan yang ringan yang membuat saya tertawa. 


Nah, kurang lebih begitu suasana saya ketika akhirnya menonton film Agensi Rumah Tangga di BIP, Bandung, bareng Teh Efi. Udah lama deh kita nggak jalan dan ngobrol selama hari ini. Next kita ulang lagi ya teh. 


Agensi Rumah Tangga menghibur sekali!

Bukan tipe film yang membuat kita harus serius memperhatikan setiap detail cerita. Justru film ini terasa ringan, ramai, dan beberapa adegannya sukses bikin saya dan Teh Efi ketawa di dalam studio. Bahkan ngakak. 




Agensi Rumah Tangga, Film yang Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari

Film yang disutradarai Naya Anindita ini diadaptasi dari novel karya Almira Bastari. Ceritanya mengikuti Katia Amaranto ( ama siapa? ama Ranto, wkwkkw) yang diperankan Enzy Storia, seorang perempuan yang harus menghadapi kenyataan setelah kehilangan pekerjaan.

Dari situ, Katia kemudian punya ide untuk membangun bisnis agensi penyalur asisten rumah tangga.


Kedengarannya sederhana, ya?

Tapi justru dari ide sederhana inilah berbagai persoalan mulai muncul. Ada urusan pekerjaan, keluarga, hubungan dengan orang tua, para pekerja rumah tangga dengan cerita mereka masing-masing, sampai persoalan ketika bisnis yang dijalankan ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Saya suka dengan premis seperti ini karena sebenarnya dekat sekali dengan kehidupan kita.

Soal kehilangan pekerjaan, mencari jalan lain ketika keadaan tidak sesuai rencana, keinginan orang tua yang kadang berbeda dengan pilihan anak, sampai usaha untuk tetap bertahan ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.

Rasanya familiar.



Kalau melihat judulnya, mungkin ada yang mengira Agensi Rumah Tangga akan menjadi film yang serius membahas dunia ART.

Ternyata tidak.

Film ini justru memilih jalur komedi yang ringan. Banyak karakter dengan tingkah masing-masing yang membuat suasana film menjadi ramai.

Dan menurut saya, ini salah satu kekuatan filmnya.

Kita bisa tertawa tanpa merasa sedang digurui.

Di balik kelucuan para karakternya, film ini tetap menyelipkan pesan tentang bagaimana kita melihat dan memperlakukan pekerja rumah tangga. Mereka bukan hanya "orang yang bekerja di rumah", tetapi juga manusia yang punya keluarga, kebutuhan, impian, masalah, dan kehidupan sendiri.


Pesan seperti ini menurut saya penting, apalagi karena disampaikan dengan cara yang santai.

Jadi setelah tertawa, ada sedikit ruang untuk kita berpikir, "Oh iya juga ya..."

Selain Enzy Storia, ada Afgan yang memerankan Kafka. Saya sendiri menikmati chemistry keduanya. Bagian romansa di film ini menurut saya cukup menjadi pemanis tanpa mengambil alih cerita utama.

Afgan sebagai Kafka juga memberikan warna tersendiri. Apalagi karakter Kafka merupakan seorang penyanyi yang hidup dengan kesibukan dan tuntutan sebagai figur publik.

Jadi, selain komedi dan cerita tentang dunia kerja, ada juga sedikit bumbu romance yang membuat film ini semakin lengkap.

Tapi tenang, saya nggak akan cerita terlalu banyak soal hubungan mereka.

Nanti malah jadi spoiler. 




Yang Saya Suka dari Agensi Rumah Tangga

Salah satu hal yang paling saya nikmati adalah film ini tidak terasa terlalu berat.

Durasi sekitar 115 menit terasa cukup nyaman untuk sebuah tontonan drama komedi.

Ada bagian yang membuat tertawa, ada bagian yang membuat kita ikut gemas dengan tingkah karakternya, dan ada juga bagian yang membuat kita sedikit berpikir tentang kehidupan dan pilihan-pilihan yang harus diambil.

Saya juga suka karena karakter-karakternya tidak terasa sempurna.

Katia misalnya, bukan perempuan yang selalu tahu apa yang harus dilakukan. Ada saatnya dia berani mengambil keputusan, ada juga saatnya panik dan harus menghadapi konsekuensi dari pilihannya sendiri.

Justru sisi seperti itu yang membuat karakternya terasa manusiawi.

Karena dalam kehidupan nyata juga begitu, kan?

Kita sering kali baru tahu harus bagaimana setelah menjalaninya.


Jangan Takut Spoiler, Saya Nggak Akan Cerita 

Untuk kamu yang belum menonton, saya sengaja tidak mau membahas terlalu jauh mengenai konflik, kejadian-kejadian penting, apalagi bagaimana akhirnya.

Lebih seru kalau kamu mengalami sendiri ceritanya di bioskop.

Apalagi kalau nontonnya bareng teman. Bisa jadi pengalaman yang menyenangkan karena setelah film selesai, biasanya ada saja bahan obrolan yang bisa dibahas.

Seperti saya dan Teh Efi waktu itu.

Berangkat dari makan di Ramen Ya, lanjut nonton di BIP, kemudian pulang dengan perasaan cukup happy karena mendapatkan tontonan yang memang menghibur.

Kadang memang sesederhana itu cara menikmati waktu bersama teman.

Nggak harus pergi jauh.

Nggak harus bikin agenda yang ribet.

Cukup makan enak, masuk bioskop, ketawa bareng, lalu ngobrol soal film setelahnya.


Jadi, Apakah Agensi Rumah Tangga Layak Ditonton?

Menurut saya: iya.

Terutama kalau kamu sedang mencari film Indonesia yang ringan, lucu, punya cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi tetap memberikan pesan tentang perempuan, pekerjaan, keluarga, dan kehidupan para pekerja domestik.

Film ini juga cocok buat kamu yang ingin refreshing dan sekadar mencari hiburan di bioskop.

Saya pribadi menikmati Agensi Rumah Tangga karena filmnya tidak berusaha menjadi terlalu berat. Ia tahu bahwa cerita yang dibawakan punya isu penting, tetapi memilih menyampaikannya lewat komedi dan karakter-karakter yang menghibur.

Dan buat saya, itu berhasil.

Menghibur, ringan, tapi tetap meninggalkan sesuatu untuk dipikirkan.

Kalau kamu sudah menonton, saya penasaran...

Menurut kamu, bagian paling lucu dari Agensi Rumah Tangga yang mana? Atau justru ada pesan dari film ini yang paling kamu ingat setelah keluar dari bioskop?

Tulis di kolom komentar ya. Jangan spoiler untuk teman-teman yang belum nonton. 😄


Judul: Agensi Rumah Tangga
Genre: Drama, Komedi
Sutradara: Naya Anindita
Durasi: 115 menit
Tanggal tayang: 10 September 2026
Pemeran: Enzy Storia, Afgansyah Reza, Fita Anggriani, Ardit Erwandha, Yunita Siregar, dan lainnya
Usia: 13+

Kalau kamu lagi cari rekomendasi film Indonesia yang menghibur untuk ditonton bareng teman, Agensi Rumah Tangga bisa masuk daftar.

Siapkan waktu, ajak teman, beli popcorn, dan nikmati sendiri kekacauan lucu Katia dan teman-temannya di layar lebar. 

Selamat menonton!



Sampai jumpa pada postingan selanjutnya,


Tian lustiana 

Jumat, 28 Agustus 2026

Festival Film Bandung 2026, Sebuah Malam untuk Merayakan Cerita

Festival Film Bandung 2026, Sebuah Malam untuk Merayakan Cerita

Tianlustiana.com - Ini kali ke- empat saya mendapatkan undangan untuk hadir di Festival Film Bandung 2026. Sebagai seorang blogger yang mendapatkan kesempatan ini, rasanya ada perasaan yang sangat sulit saya jelaskan ketika mendapatkan kesempatan untuk hadir di acara yang pasti akan datang para aktor keren yang mewarnai perfilman Indonesia. 



Saya, datang sebagai seorang blogger. Hadir dengan kamera ponsel, catatan kecil, rasa penasaran dan tentu saja keinginan untuk membagikan cerita malam ini kepada pembaca blog. Hingga malam itu, saya pulang bukan hanya dengan foto dan video yang ada dalam ponsel namun juga dengan banyak cerita. Tentang film, tentang mereka yang berada di balik layar, tentang para aktor yang membuat karakternya lebih hidup. 



Festival Film Bandung 2026, Sebuah Malam untuk Merayakan Cerita

Festival Film Bandung (FFB) adalah ajang apresiasi yang menjadi bagian dari perjalanan perfilman Indonesia, sudah 39 tahun. Nyaris sama dengan usia saya. Forum Film Bandung sudah hadir sejak 1986 dan mulai menyelenggarakan Festival Film Bandung pada tahun 1987. Yang menarik dari Festival Film Bandung ini buat saya adalah menggunakan istilah "terpuji", bentuk apresiasi untuk karya dan insan perfilman yang sudah dinilai memiliki kualitas, artistik, teknis dan juga nilai kemanusiaan. 

Tahun ini, Festival Film Bandung yang ke - 39. Perjalanan yang tidak sebentar, hampir empat dekade. Bayangin aja udah berapa banyak film yang sudah lahir. Sudah berapa banyak aktor yang berkembang dan sudah berapa banyak cerita yang diubah menjadi adegan, dialog, musik dan menjadi film yang kita nikmati. 

FFB 2026 kini mengusung tema "Sinema Rona Keluarga", tema yang sangat hangat, karena keluarga itu memang selalu menjadi ruang yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Ada cinta, konflik, kehilangan, perjuangan dan juga harapan. Hal yang sangat sering kita temukan dalam film - film. Membayangkan perjalanan yang membawa mereka, para nominator hingga bisa berada pada titik ini. Sebuah panggung penghargaan ini tuh bukan hanya berbicara tentang siapa yang berdiri diatas panggung, dibaliknya ada proses yang panjang. 

Ada penulis skenario yang mungkin habiskan banyak waktu untuk menyusun cerita. Ada sutradara yang harus menerjemahkan tulisan menjadi sebuah visual, aktor yang harus memahami karakter agar aktingnya menawan dan membuat film ini kena ke hatipenonton, serta ada editor, penata kamera, penata artistik, penata musik dan masih banyak orang yang ikut andil namun tidak terlihat oleh penonton. 

Film yang kita tonton bisa sampai 2 jam, namun untuk menciptakan 2 jam ini ada perjalanan yang mungkin berlangsung berbulan - bulan, bahkan bisa bertahun - tahun lamanya. 

Festival Film Bandung ini adalah salah satu ruang apresiasi untuk bisa melihat karya -  karya yang tidak terlihat. 

Sebelum malam puncak digelar, Forum Film Bandung terlebih dahulu mengumumkan daftar nominasi pada 16 Juli 2026.

Proses pengamatan FFB 2026 mencakup karya-karya yang tayang dalam periode 1 September 2025 hingga 30 Juni 2026. Pada periode tersebut, tercatat 144 film Indonesia yang menjadi bagian dari pengamatan, bersama berbagai karya serial televisi dan serial web. 

Beberapa judul besar berhasil masuk dalam nominasi dan menjadi perbincangan.

Untuk kategori Film Indonesia Terpuji, lima film yang bersaing adalah:

  • Children of Heaven

  • Dopamin

  • Nobody Loves Kay

  • Pangku

  • Para Perasuk

Lima film tersebut menjadi representasi dari beragam warna perfilman Indonesia tahun ini.

Sementara itu, untuk kategori Sutradara Terpuji Film Indonesia, nama-nama yang masuk nominasi adalah:

  • Dinna Jasanti

  • Hanung Bramantyo

  • Joko Anwar

  • Reza Rahadian

  • Wregas Bhanuteja

Melihat daftar ini saja sudah cukup membuat saya merasa bahwa persaingan FFB 2026 sangat menarik.

Ada nama-nama besar yang sudah lama berkarya di industri film.

Ada pula sineas yang terus memberikan warna baru bagi perfilman Indonesia.

Untuk kategori Pemeran Utama Pria Terpuji, para nominator diisi oleh:

  • Angga Yunanda

  • Jared Ali

  • Reza Rahadian

  • Vino G. Bastian

  • Yusuf Mahardika

Sedangkan untuk Pemeran Utama Wanita Terpuji, nama-nama yang masuk nominasi antara lain:

  • Amanda Rawles

  • Claresta Taufan

  • Marsha Timothy

  • Shenina Cinnamon

  • Marissa Anita

Daftar tersebut memperlihatkan betapa beragamnya wajah perfilman Indonesia saat ini. Ada aktor dan aktris yang sudah lama kita kenal, tetapi juga ada generasi yang semakin kuat menunjukkan kualitas aktingnya. 

Daftar Pemenang Festival Film Bandung 2026

Dan tibalah malam yang ditunggu-tunggu.

Saat nama-nama pemenang Festival Film Bandung 2026 diumumkan satu per satu.

Salah satu film yang paling mencuri perhatian adalah Pangku.

Film ini berhasil meraih beberapa penghargaan penting, termasuk Film Indonesia Terpuji. Reza Rahadian juga meraih penghargaan Sutradara Terpuji Film Indonesia melalui film tersebut, sementara Claresta Taufan memenangkan kategori Pemeran Utama Wanita Terpuji Film Indonesia lewat perannya dalam Pangku. 


Pemenang Kategori Film Indonesia Terpuji FFB 2026

Berikut daftar pemenang kategori film Indonesia dalam Festival Film Bandung 2026:

Film Indonesia Terpuji : 

Pangku

Sutradara Terpuji Film Indonesia:

Reza Rahadian – Pangku

Pemeran Utama Wanita Terpuji Film Indonesia:

Claresta Taufan – Pangku

Pemeran Utama Pria Terpuji Film Indonesia:

Jared Ali – Children of Heaven dan Reza Rahadian – Semua Akan Baik-Baik Saja

Pemeran Pembantu Pria Terpuji Film Indonesia:

Aming – Ghost in the Cell

Pemeran Pembantu Wanita Terpuji Film Indonesia:

Meriam Bellina – Senin Harga Naik

Penulis Skenario Terpuji Film Indonesia:

Johana Wattimena dan Bernadus Raka – Nobody Loves Kay

Penata Editing Terpuji Film Indonesia:

Aline Jusria – Dopamin

Penata Kamera Terpuji Film Indonesia:

Vera Lestafa – Dopamin

Penata Artistik Terpuji Film Indonesia:

Rini Sri Handayani – Na Willa

Penata Musik Terpuji Film Indonesia:

Ofel Obaja Setiawan – Na Willa

Daftar pemenang ini memperlihatkan bahwa sebuah film bukan hanya tentang aktor atau sutradara. 



Sebuah film adalah kerja bersama.

Ketika kita menikmati sebuah adegan yang indah, mungkin ada kerja keras seorang penata kamera di sana.

Ketika suasana sebuah film terasa hidup, ada penata artistik yang bekerja membangun dunia cerita.

Ketika sebuah adegan terasa emosional, musik mungkin menjadi bagian penting yang membuat kita ikut merasakan emosi tersebut.

Itulah mengapa menurut saya menarik melihat Festival Film Bandung memberikan apresiasi pada begitu banyak unsur di balik sebuah film.



Pemenang Kategori Serial Web Festival Film Bandung 2026

Perkembangan dunia digital juga menjadi bagian dari perhatian Festival Film Bandung.

Saat ini, cerita tidak hanya hidup di layar bioskop atau televisi.

Kita juga menemukan banyak cerita menarik melalui berbagai platform digital dan layanan streaming.

Untuk kategori serial web, berikut beberapa pemenang FFB 2026:

  • Serial Web Terpuji: Ganteng-Ganteng Genteng: Kontes Otot Paling Viral

  • Sutradara Terpuji Serial Web: Lucky Kuswandi – Ratu-Ratu Queens: The Series

  • Pemeran Utama Wanita Terpuji Serial Web: Wulan Guritno – Mama-Mama Pengejar Cinta

  • Pemeran Utama Pria Terpuji Serial Web: Yesaya Abraham – Secret High School

  • Pemeran Pembantu Pria Terpuji Serial Web: Randy Martin – Generasi D'Bijis

  • Pemeran Pembantu Wanita Terpuji Serial Web: Alexandra Gotardo – Balas Dendam Istri yang Tak Dianggap

Kehadiran kategori serial web ini menjadi bukti bahwa cara kita menikmati cerita memang terus berkembang. 

Pemenang Kategori Serial Televisi FFB 2026

Untuk kategori serial televisi, penghargaan diberikan kepada:

  • Pemeran Pria Terpuji Serial Televisi: Fendy Chow – Terikat Janji

  • Pemeran Wanita Terpuji Serial Televisi: Adhisty Zara – Beri Cinta Waktu 

Televisi mungkin sudah berkembang mengikuti perubahan zaman, tetapi cerita yang kuat dan akting yang baik tetap memiliki tempat di hati penonton.

Penghargaan Lifetime Achievement untuk Christine Hakim

Salah satu momen yang menurut saya memiliki makna mendalam adalah pemberian penghargaan Lifetime Achievement kepada Christine Hakim.

Nama Christine Hakim tentu bukan nama kecil dalam dunia perfilman Indonesia.

Perjalanan kariernya telah menjadi bagian dari sejarah sinema Indonesia.

Memberikan penghargaan atas perjalanan panjang seseorang rasanya berbeda dengan memberikan penghargaan untuk satu karya.

Karena yang diapresiasi adalah waktu.

Puluhan tahun berkarya.

Puluhan karakter.

Berbagai cerita.

Dan dedikasi yang terus diberikan untuk dunia perfilman.

Penghargaan Lifetime Achievement ini menjadi salah satu bentuk penghormatan Festival Film Bandung terhadap kontribusi Christine Hakim bagi perfilman Indonesia. 

Film Impor yang Mendapat Penghargaan di Festival Film Bandung 2026

Festival Film Bandung 2026 juga memberikan apresiasi kepada sejumlah film impor dari berbagai genre.

Berikut beberapa karya yang menerima predikat terpuji:

  • Backrooms – Film Horor Psikologis Terpuji

  • Hamnet – Film Drama Sejarah Romansa Terpuji

  • Hokum – Film Horor Misteri Terpuji

  • Hoppers – Film Animasi Terpuji

  • It Was Just An Accident – Film Thriller Kriminal Terpuji

  • Kokuho – Film Epik Budaya Terpuji

  • Marty Supreme – Film Drama Olahraga Terpuji

  • Obsession – Film Horor Romansa Terpuji

  • One Battle After Another – Film Aksi Thriller Terpuji

  • Project Hail Mary – Film Fiksi Ilmiah Terpuji

  • The Furious – Film Laga Terpuji

  • The Sheep Detective – Film Komedi Detektif Terpuji 

Pangku, Salah Satu Bintang Utama Festival Film Bandung 2026

Kalau berbicara tentang karya yang paling menonjol dalam FFB 2026, sulit untuk tidak menyebut Pangku.

Film ini berhasil membawa pulang penghargaan untuk:

  • Film Indonesia Terpuji

  • Sutradara Terpuji melalui Reza Rahadian

  • Pemeran Utama Wanita Terpuji melalui Claresta Taufan

Tiga penghargaan penting dalam satu malam.

Tentu bukan pencapaian kecil.

Dan dari sini saya kembali berpikir bahwa sebuah film yang kuat biasanya bukan hanya karena satu orang.

Ada visi.

Ada kerja sama.

Ada keberanian untuk bercerita.

Ada tim yang percaya pada cerita tersebut.

Dan pada akhirnya, ada penonton yang ikut merasakan perjalanan cerita itu.




Lebih dari Sekadar Penghargaan

Setelah menghadiri Festival Film Bandung 2026, saya semakin menyadari bahwa dunia perfilman sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita.

Film adalah cerita tentang manusia.

Tentang keluarga.

Tentang cinta.

Tentang kehilangan.

Tentang mimpi.

Tentang kegagalan.

Tentang seseorang yang berusaha bertahan.

Mungkin itulah alasan mengapa sebuah film bisa begitu membekas.

Karena terkadang kita tidak sedang menonton cerita orang lain.

Terkadang, kita sedang menemukan sedikit bagian dari diri kita sendiri di dalam cerita tersebut.

Mungkin dalam karakter yang sedang berjuang.

Mungkin dalam dialog sederhana.

Atau mungkin dalam sebuah adegan yang entah kenapa membuat kita diam cukup lama setelah film selesai.

Sebagai seorang blogger, saya pun merasa bahwa pekerjaan saya sebenarnya tidak jauh berbeda.

Saya juga bercerita.

Bedanya, cerita saya hadir dalam bentuk tulisan.

Tentang pengalaman.

Tentang perjalanan.

Tentang sebuah acara.

Tentang sesuatu yang saya lihat dan saya rasakan.

Dan malam di Festival Film Bandung 2026 ini adalah salah satu cerita yang ingin saya simpan.

Bukan hanya sebagai dokumentasi.

Tetapi sebagai pengingat bahwa karya, sekecil atau sebesar apa pun, selalu membutuhkan ruang untuk diapresiasi.

Bandung dan Cerita yang Terus Hidup

Ada sesuatu yang terasa spesial ketika acara seperti Festival Film Bandung digelar di kota ini.

Bandung memang selalu punya hubungan yang unik dengan kreativitas.

Kota ini dipenuhi oleh orang-orang yang suka membuat sesuatu.

Musik.

Film.

Seni.

Tulisan.

Konten.

Desain.

Dan tentu saja, cerita.

Maka ketika malam puncak Festival Film Bandung 2026 digelar di Bandung, saya merasa seperti melihat satu bagian dari identitas kota ini sedang dirayakan.

Bukan hanya tentang siapa yang menang.

Tetapi tentang bagaimana kreativitas terus hidup.

Tentang bagaimana sebuah cerita bisa berawal dari mana saja.

Dari sebuah pengalaman pribadi.

Dari percakapan.

Dari keluarga.

Dari keresahan.

Atau bahkan dari sebuah pertanyaan sederhana:

“Bagaimana kalau cerita ini dijadikan film?”

Dan mungkin dari pertanyaan sederhana itulah, lahir karya-karya yang suatu hari nanti akan berdiri di panggung penghargaan.

Dan Festival Film Bandung 2026 memberikan banyak cerita untuk dibawa pulang.

Sampai jumpa di cerita berikutnya.

Karena selama masih ada manusia yang ingin bercerita, akan selalu ada cerita yang layak untuk ditonton, ditulis, dan dikenang.


Sampai jumpa pada postingan selanjutnya,


Tian lustiana 

Minggu, 19 Mei 2024

Review Film : SIKSA KUBUR

Review Film : SIKSA KUBUR

Bismillah, 

Maju mundur ingin nonton film SIKSA KUBUR, film karya Joko Anwar yang terkenal dengan film horor nya itu. Kali ini beliau ambil cerita yang menurut saya cukup berani dan deep banget, tentang kehidupan setelah kematian. Duh, bawa judulnya saja saya langsung merinding, bukan takut tapi lebih ke ngeri, lebih ke duh siap nggak sih melihat siksa kubur, semacam itu lah. 

Oke, 4 Mei 2024 kemarin saya langsung gas nonton bareng bestie, karena penasaran banget tentang isi dari film ini, baca review sih banyak pro dan kontra juga. Jadi, saya harus menyaksikannya sendiri. 

Oke, mari kita review menurut pandangan saya yah, semoga tidak spoiler. Heheh.




REVIEW FILM SIKSA KUBUR 

Film yang berdurasi 117 menit ini menceritakan tentang Sita dan Adil. Awal film saja sudah disuguhkan kejadian yang tragis, ketika itu Sita dan Adil masih kecil, ya remaja lah. 

Jadi, ketika mereka masih remaja kedua orangtuanya meninggal karena bom bunuh diri. Ada seorang pria yang meledakkan diri bersama bom dengan dalih "jihad" setelah mendengar suara rintihan dan jeritan orang - orang dalam kubur yang mendapatkan siksa. 

Sita dan Adil, menjalani hidup berdua tanpa orangtua. Kebayang kan bagaimana mereka? 

Tidak usah dibayangkan, karena difilm juga nggak diceritakan bagaimana mereka berjuang hidup tanpa orangtua. 

Sita dan Adil pun dewasa. 

Sita bekerja di sebuah panti jompo, sedangkan Adil sudah menikah dan bekerja sebagai pemandi jenazah. Mereka berdua punya misi, yaitu mencari manusia yang paling berdosa dan penasaran apakah mereka akan alami siksa kubur. 

Perjalanan mereka akhirnya bertemu dengan orang yang mereka anggap paling banyak dosa, Wahyu yang pernah menjadi donatur pesantren, yang pernah mencabuli Adil dan puluhan santri lainnya. Wahyu tewas bunuh diri, kemudian karena rasa penasaran Sita pun ikut dikubur karena ingin membuktikan bahwa siksa kubur.


siksa kubur

Hmmm, kebablasan nih. Takut spoiler ah. 

Oke, lanjut deh yah. 

Buat saya, pada awal film ini justru menjadi bagian yang kuat. Pada adegan buka toko, ada kesan dalam. Ada keharmonisan yang lekat pada keluarga Sita dan Adil. Latar belakang ceritanya bagus, dialognya pun hangat. Terlihat bahwa Sita remaja itu tumbuh dalam keluarga yang penuh kasih sayang. 

Nampak juga Adil yang sejak kecil mendapatkan bullying, padahal keluarga mereka hangat. Kok bisa ya orang tua nya nggak tahu anaknya menjadi korban bully. Oke, kita bahas itu nanti saja. 

Sepeninggal orang tuanya, Sita dan Adil dimasukkan ke pesantren, di pesantren Sita berdebat dengan guru agamanya, Bu Ningsih sampai akhirnya Sita berpikir dan memutuskan untuk kabur dari pesantran. Namun sayangnya Sita dan Adil tertangkap dan diberikan hukuman. 



Dukungan latar musik dan efek suara yang membuat setiap detail film ini makin kuat. Apalagi pas suara bom meledak, duh bikin jantung berdebar banget, jleb banget masuk ke telinga dan jantung. Iramanya sempurna, bikin tegang. 

Dalam film ini, banyak sekali aktor ternama, seperti Christine Hakim yang bikin merinding karena harus tewas dalam mesin cuci, ih. Djenar Maesa Ayu, Putri Ayudya, Widuri, Muzakki dan dengan pemeran utama Reza Rahardian sebagai Adil dewasa, Faradina Mufti sebagai Sita dewasa. 



Film Siksa Kubur ini menurut saya merupakan horor psikologis yang punya warna sendiri, beda dengan genre horor Indonesia pada umumnya. 


Gimana ada yang sudah nonton film Siksa Kubur? 



Sampai jumpa pada postingan selanjutnya,


Tian Lustiana 

Sabtu, 13 Januari 2024

Review FILM : Mantan Tapi Menikah

Review FILM : Mantan Tapi Menikah

Sekarang banyak sekali series Indonesia yang keren, nggak kalah rame dan serunya dari drama Korea loh. Salah satunya adalah komedi romantis yang diadaptasi dari sebuah novel, judulnya juga sama dengan novel karya Ami Rahmi di Watpadd, "Mantan Tapi Menikah". Serialnya ada 10 episode, jadi nggak akan bikin nontonnya bosen.   

Alur yang disajikan juga unik, series ini menjelaskan tentang hal yang mendalam dalam suatu hubungan, bukan hanya hubungan dengan pasangan saja. Namun dengan keluarga dan juga sahabat. 




Mantan tapi menikah menceritakan tentang Ana yang diperankan oleh Aurelie Moeremans, terpaksa bekerja di perusahaan yang dipimpin oleh mantan pacarnya, Saka yang diperankan oleh Oemar Daniel. Kebayang ga sih gimana kalau kita bekerja di perusahaan mantan? Duh. 

Sikap Saka yang dingin, ketus, galak bahkan terkesan kejam membuat Ana menderita selama bekerja. Tapi apakah sebenarnya mereka masih saling mencintai? 

Setiap episode nya bikin gregetan dan juga kesel loh, tentu bikin penasaran menyelesaikan sampai episode 10. 

Dalam series ini, sosok Ana digambarkan sebagai seorang pribadi yang cantik, pintar dan tegas. Ana punya visi dan tujuan hidup jelas, ya mungkin karena Ana harus bertanggung jawab pada kedua adiknya, setelah kedua orang tuanya meninggal. 




Sedangkan Saka, digambarkan sebagai seorang laki - laki yang mencari perhatian ayahnya dengan pemberontak semasa kuliahnya, namun seiring berjalan waktu Saka menemukan dirinya, namun tidak dengan cintanya, karena mantannya masih dia cintai. Ana yang dulu memutuskan Saka, waktunya nggak tepat dan membuat Saka frustasi, hingga ibu Saka langsung menjudge bahwa Ana bukan perempuan baik - baik. 

Dalam series ini bukan hanya menceritakan tentang Ana dan Saka, namun juga tentang hubungan Ana dan sahabat - sahabatnya. Ana dan sahabatnya memiliki rahasia, sehingga mereka merasakan hubungan yang kaku karena ada kebohongan. Bayu dan Tara adalah sahabat Ana yang selalu bersama, namun mereka masih kurang terbuka. Padahal dalam persahabatan harus terbuka ya, jangan ada rahasia. 




Setiap karakter memiliki pesona sendiri, belum lagi ada Fania Lira sebagai Maria yang memerankan karakter manja dan menyebalkan, seorang selebgram yang kerap membuat saya kesal. Dalam cerita persahabatannya ini, memberikan ragam masalah yang kerap terjadi. Tentang bagaimana seharusnya kita bersikap dan juga tentang perasaan yang tidak bisa kita kendalikan, meskipun dengan sahabat. 

Serial ini, setiap karakter memiliki alasan masing - masing untuk tetap mempertahankan pendiriannya dan oke lah jika memilih bersikap defensif. 

Serial Mantan tapi Menikah ini diambil dari Watpadd, keren karena bisa memvisualisasikan karakter yang ada, ada penambahan dan improve cerita tapi so far masih oke sih. 

Pemain :Aurelie Moeremans, Omar Daniel, Ge Pamungkas, Dimas Beck, Cassandra Lee, Rowiena Umboh

Tonton di : icon viu 

Sampai jumpa dipostingan selanjutnya,

Tian lustiana 


Sabtu, 06 Januari 2024

Review Film : Kapan Hamil?

Review Film : Kapan Hamil?

Fedi Nuril dan Laura Basuki , sebelumnya sudah membuat saya terpukau di perannya sebagai Surti dan Sukri di fillm Rumah Masa Depan. Kini membuat saya penasaran sama akting keduanya di web series yang judulnya Kapan Hamil?. Tapi bedanya, Kapan Hamil? ini tidak tayang di bioskop namun tayang di Prime Video. 


Kapan hamil?

Jadi, Kapan Hamil? ini menceritakan tentang sepasang suami istri, Alan dan Nadya yang sudah menikah cukup lama namun belum juga diberikan keturunan, mereka sudah bosan mungkin ya diberondong pertanyaan "Kapan Hamil?" terutama Nadya yang selalu dihantui pertanyaan itu sama mertua nya. 

Karena sudah merasa bosan dengan pertanyaan Kapan Hamil? dan juga memang sudah inginkan kehadiran anak, Alan dan Nadya pun memutuskan untuk melakukan pemeriksaan medis di Klinik dokter. Dengan terpaksa, Alan akhirnya mau memeriksakan diri, sampai akhirnya keluar hasil pemeriksaan, menyatakan bahwa Alan mandul, dan Nadya dinyatakan sehat. 




Alan pun langsung punya akal licik, bagaimana caranya dia harus terlihat sehat dimata Nadya dan keluarganya. Ada sesuatu hal yang dilakukan Alan dan membuatnya terlihat sehat dan baik - baik saja. 

Alan malah terkejut ketika Nadya dinyatakan hamil, lah itu anak siapa?

Anak siapa ya yang dikandung Nadya? Sedangkan Alan kan mandul, bingung kan? Mending langsung tonton film ini saja, di Prime Video. 

Dalam film ini, menjelaskan tentang peran seorang istri yang sering disangka yang mandul, apalagi oleh mertua, padahal kan belum tentu. Bisa saja suami yang tidak sehat, iya kan? Namun selalu istri yang disalahkan. 


Kapan Hamil?


Fedi Nuril, sebagai Alan yang terlihat egois, menghalalkan segala cara supaya terlihat sehat dimata istri dan keluarganya. Sehingga bersikap manipulatif. 

Pokoknya, kalau nonton film ini siap - siap saja gemas dan kesal sama Alan, ih hayang nakol pokoknya mah da. 

Tonton sendiri ya di Prime Video , dan selamat emosi sama Alan. 



See you,

Tian Lustiana 

Sabtu, 16 Desember 2023

Review Film : Rumah Masa Depan

Review Film : Rumah Masa Depan

Sebelum ujian semester, saya ajakin neng Marwah refreshing dulu. Kali ini ajakin nonton saja. Kebetulan juga ada film yang bisa ditonton neng Marwah. Sebuah film yang sebenarnya sudah populer pada tahun 80-an, sebuah serial berjudul Rumah Masa Depan, dan ini menjadi pelopor serial keluarga. Konon katanya serial Rumah Masa Depan ini banyak disukai, dan berjaya pada tahun itu, diputar di TVRI. 

Dan sekarang ada remake nya, jadinya kan penasaran ingin nonton. Meski dulu saya nggak sempat nonton serialnya, hehe. 




Rumah Masa Depan ini menceritakan tentang sebuah keluarga harmonis, Sukri (Fedi Nuril), Surti (Laura Basuki) dan kedua anaknya Bayu (Bima Azriel) dan Gerhana (Ciara Brosnan), btw terlihat ya dari nama ayah dan ibu nya yang "jadul" jadi menambah unik film ini, menurut saya. 

Keluarga Sukri - Surti ini merencanakan liburan, akhirnya mereka memutuskan untuk berlibur. Sibuk dengan barang bawaan masing - masing untuk berlibur, namun sayang ternyata akhirnya mereka harus terpaksa ke Desa Cibeureum, kampung halaman ayahnya karena pak Musa (Cok Simbara) ayah Sukri meninggal dunia. Meskipun enggan, Surti, Bayu dan Gerhana harus ikut dan mengiyakan. 




Setelah pemakaman pak Musa, ternyata mereka tidak bisa langsung pulang untuk kembali ke Jakarta karena ibu Musa (Widyawati) berurusan dengan polisi karena sebuah kasus, bu Musa dijadikan tersangka pemukulan pak Lurah, lah kok bisa yah? 

Kebayang dong, anak kota harus tinggal di desa? Gimana yah? Harus menyesuaikan. Bayu dan Surti yang memperlihatkan bahwa mereka tidak betah dan tidak nyaman berada disana, karena bu Musa nenek Bayu dan mertua Surti itu memang galak dan judes. Jadi mereka tidak betah. 

Bayu akhirnya bertemu dengan Cempaka (Maisha Kanna) dan juga Sangaji (Zayyan Sakha), membuat Bayu betah tinggal di Cibeureum. Sementara Gerhana terus berusaha untuk mendapatkan hati sang nenek yang terkenal judes dan galak itu. 


Masalah pun datang terus, mampukah keluarga Sukri menyelesaikan berbagai masalah yang datang bertubi - tubi itu? 


Film Rumah Masa Depan dan Serial Rumah Masa Depan

Rumah Masa Depan ini seakan membawa kembali ke masa lalu, dimana pedesaan yang khas dan juga untuk elemen aslinya pada serial lawas juga masih digunakan loh. Seperti nama, karakter dan theme song nya juga masih sama meski diaransemen ulang. 


Untuk esensi ceritanya pun masih sama, kampung halaman Sukri yang merupakan pondasi kehidupan Sukri, meski ada penyesuaian dengan perbedaan zaman dan kemajuan teknologi. Dimasukkan juga bagaimana kecanggihan teknologi bisa memajukan peradaban di Cibeureum. Surti, seorang chef dan youtuber terkenal, rajin berbagi resep makanan dan ternyata menjadi inspirasi untuk para warga desa Cibeureum. Meskipun latar pedesaan namun kecanggihan teknologi tetap ditonjolkan. 


Kesimpulan: 

Rumah Masa Depan ini membuat kita harus masuk, menyelami permasalahan dalam keluarga yang ada di desa Cibeureum, masalah masa lalu yang menjadi dendam. Nunasa kebersamaannya menyatu dengan baik dan alami. Apalagi karakter yang diperankan Widyawati, luar biasa. 

Saya rekomendasikan banget nih buat teman - teman tonton. 


Sampai jumpa dipostingan selanjutnya, 


Tian lustiana