Kamis, 13 April 2023

Ramadan Kedua tanpa Bapak

Ramadan Kedua tanpa Bapak

Bismillahirrahmanirrahiim, 


Alhamdulillah, sudah 22 hari kita menjalankan ibadah puasa. Ramadan tahun ini sama seperti Ramadan tahun kemarin, serasa ada yang hilang dan mengganjal dalam dada. Ada kerinduan yang tak pernah berujung apalagi ketika momen Ramadan dan Idul Fitri datang. 


Dua tahun lalu, bapak sudah pergi, sudah tidak bisa lagi kita bertemu atau buka bersama, biasanya kami sering berkumpul, bahkan sering. Namun sekarang saya hanya bisa mengunjungi pusaranya dan memanjatkan doa pada yang maha kuasa supaya bapak diberikan kebahagiaan di alam sana. 




Life must goon, itu yang selalu saya tekankan pada diri sendiri. Bahwa saya tetap harus hidup dan menjalankan hidup meski sulit dan pedih, bapak sudah berangkat duluan dan kami yang masih di dunia ini sedang menunggu antrian, kita semua juga akan kembali pada NYA. 


Flash back masa kecil suka teringat. Ketika saya susah bangun sahur, bapak yang bangunkan bahkan sampai digendong untuk bangun dan makan sahur. Bermain dan jalan - jalan sore ngabuburit bareng bapak, beli kolak dan jajanan khas Ramadan. Teringat juga ketika kecil dulu, beli baju lebaran bersama mamah, bapak dan kedua adik. Ah, rindu sekali. 


Sekarang, saya yang harus kuat. Saya kakak perempuan pertama dan anak perempuan satu - satu nya yang harus menggantikan bapak memberikan banyak perhatian untuk mamah. Saya saja patah hatinya ditinggalkan bapak , tidak kebayang bagaimana perasaan mamah kehilangan separuh jiwanya. 


Baca : 14 Hari Tanpa Bapak, Patah Hati 


Kini, hanya bisa panjatkan banyak doa. Karena doa adalah satu - satu nya cara untuk menyampaikan rasa sayang dan untuk memeluk bapak dari kejauhan. Kehidupan kami sudah berbeda, berlainan. Tidak lagi ada satuan jarak tempuh dan waktu, tidak ada alamat yang bisa kami tuju untuk bertemu bapak, yang ada hanya pusara bertuliskan namanya. 




Bapak, dua tahun sudah berlalu. Ramadan kami masih saja sama namun bedanya tanpa mu saja, pak. Kerinduan yang tak terbendung ini membuat hati yang patah ini susah untuk sembuh. 


Baca: Surat untuk bapak


Kini, hanya bisa menjaga belahan jiwamu, mamah. Orang yang selalu bapak sayang, kami akan selalu menjaga mamah, membahagiakannya semampu saya. 


JANGAN ADA PENYESALAN SETELAH KEHILANGAN.

BAHAGIAKAN  YANG MASIH ADA SEMAMPUNYA!!! 




Kehilangan orang tua adalah fase paling berat untuk dijalani, fase paling menyakitkan untuk saya lalui. Namun tetap harus dilalui, karena takdir takkan bisa kita lewati begitu saja. 


Kematian adalah akhir dari kehidupan, kematian adalah bagian akhir, sebagai awal baru yang penuh dengan haru. 


Semoga bapak selalu diberikan ampunan oleh Allah Subhanahuwata'ala. 


Aamiin

Senin, 02 Mei 2022

Lebaran Pertama Tanpa Bapak, Rindu Pak.

Lebaran Pertama Tanpa Bapak, Rindu Pak.

Bismillahirrahmanirrahim,


Suara takbir menggema, terus menerus tanpa rasa lelah. Saling bersahutan, semua orang bergembira menyambut bulan Syawal, hari kemenangan.


"Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa-illaha illalahu wa allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd" 




Sementara iyang disini, sekuat tenaga menguatkan diri agar tidak terlihat rapuh didepan mamah, supaya air mata ini tidak keluar. Padahal hati sudah rapuh, tangisan ini sudah ingin pecah. Namun saya harus kuat, anak perempuan pertama tidak boleh rapuh, harus kuat. 


Lebaran tahun ini, ratusan hari tanpa bapak. 


Lebaran tahun ini, tidak akan ada lagi yang meminta nambah menikmati ketupat dan sayur opor masakan mamah. 


Lebaran ini, tidak ada lagi yang tersenyum lebar ketika menikmati manisan kolang - kaling.


Lebaran tahun ini tidak ada lagi yang keliling nyari cucunya untuk memberikan THR. 


Lebaran pertama tanpa bapak, lebaran yang pastinya beda dengan lebaran tahun sebelumnya. 


Dada ini sesak, tak kuat ingin segera meledakkan tangisan. 

Dalam hati terlintas kata " Ya Rabb, tahun lalu hamba masih bisa merasakan lebaran bersama bapak, namun tidak tahun ini" . 


Rindu ini sudah tak terbendung lagi. Tangisan dan doa yang bisa dilakukan, hanya itu. 


Masih ingat ketika adik ipar menelepon mengabarkan bahwa bapak sudah tiada, hati ini hancur berkeping - keping dan sampai sekarang masih saja hancur, sudah coba saya susun namun hancur lagi ketika badai rindu menerjang. Ikhlas, sudah ku ikhlaskan dari awal kepergian bapak. Semoga bapak tenang dan mendapatkan rahmat ALLAH Azza Wa Jalla , aamiin.


Sekarang saya hanya bisa mengirimkan doa untuk bapak, menitipkan semua salam dan kerinduan hanya dengan doa dan air mata. 


Kepergian bapak, membuat Iyang paham bahwa rindu yang paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang sudah tiada, kepergian bapak mengajarkan bahwa Allah Azza Wa Jalla selalu ada untuk mendengarkan semua doa dan segenap harapan. 




Bapak, meskipun bapak sudah pergi untuk selamanya dan takkan pernah kembali lagi, namun bapak akan selalu ada dalam hati, bapak akan selalu ada dalam setiap doa dan istighfar Iyang pak, akan selalu pak. 


Pak, izinkan Iyang memberikan puisi untuk bapak di lebaran ini. 


Takbiran yang syahdu, mengalun silih berganti 

Sejak awal takbiran sambil hendak berganti adzan subuh, perasaan ini tetap sama

Sedih, dan ada lara yang menyeruak dalam dada, melesak dan makin menyesak. 


Tahun ini

Kali pertama lebaran tanpa kehadiran bapak

Sudah berulang kali ku tepiskan rasa sedih ini

namun tetap saja, air mata tak mampu kutahan lagi 

Rindu yang kian menghujam, sadis sekali. 


Bapak, tahun ini kita tak bersama 

Untaian doa dan istighfar yang selalu kuucapkan untuk melunturkan semua rindu 

Doa anak mu takkan pernah putus dan ikhlas ini yang akan selalu menjadi lentera mu, pak. 


Lebaran tahun ini

Hanya bisa mendatangi  kuburanmu, pak

Menghujani dengan doa

Membersihkan pusara dan menyimpan setangkai bunga, sebagai pemanis rindu bukan sebagai syarat apapun




Pak, mungkin adik - adik lain tidak se melankolis Iyang 

Namun anak - anakmu berbeda dalam merefleksikan kerinduan

Cara kami berbeda pak

Namun kami tetap sayang dan selalu sayang bapak


Bapak,

kita memang sudah terpisah raga, itulah yang nampak

Namun rasa hati tetap sama


Bapak, selamat lebaran 

Semoga kelak kita bisa dipertemukan kembali

Kami, anak - anakmu selalu mencintai dan menyayangimu, pak

Kami akan selalu menghantarkan doa untuk mu, untuk menjadi lentera bapak disana. 






Bandung, 02 Mei 2022 


Anak perempuanmu, Tian Lustiana

Kamis, 10 Maret 2022

Ratusan Hari Tanpa Bapak

Ratusan Hari Tanpa Bapak

Bismillahirrahmanirrahim, 


Ratusan hari sudah dilalui, tanpa bapak. Ah, entah berapa banyak air mata yang sudah ditumpahkan. Kerinduan ini hanya bisa dilepaskan melalui untaian doa pada Allah agar Allah sampaikan padamu, pak. 


Pak, ratusan hari kami lalui tanpa bapak. Hampa banget rasanya, tiada lagi tempat bertukar pikiran atau pendapat. Tidak ada lagi bapak yang bijak yang ahli memecahkan setiap masalah kami, tiada lagi bapak yang paling senang menikmati makanan, ya setiap makanan bapak syukuri dan terasa nikmat, memang apapun juga harus disyukuri ya pak supaya terasa nikmat. 




Masih ingat, dan mungkin kembali dalam ingatan. Saat - saat ketika Iyang kecil, bapak yang selalu menenangkan Iyang ketika nangis karena mainan direbut adik, atau ketika menangis dijahili adik. Ah waktu memang sangat cepat berlalu ya pak. Rasanya baru kemarin Iyang menjadi anak perempuan kecil bapak yang selalu mengadu pada bapaknya. 



Masih jelas dalam benak, ketika kita sekeluarga bepergian bersama. Bapak selalu menghibur kami selama perjalanan, bahkan ketika Iyang mual dan ingin muntah, bapak pasti selalu menenangkan supaya Iyang bisa menikmati perjalanan. Kini, kita tidak akan lagi menikmati perjalanan bersama ya pak. 




Pak, masih lekat juga dalam ingatan ketika Iyang remaja, patah hati dan bapak yang support. Mengatakan bahwa dunia ini tidaklah selebar daun kelor, laki - laki banyak jadi jangan sedih. Ah, 


Rasanya setiap moment bersama bapak, susah sekali hilang dalam benak Iyang pak. Rasanya setiap saat Iyang selalu ingin mengenang dan merindukan bapak, semua kebaikan dan kasih sayang bapak. Hanya doa yang bisa Iyang panjatkan, semoga Allah ampuni segala dosa & khilaf bapak. 





Bapak, kepergian bapak itu mengajarkan Iyang bahwa benar rindu itu berat ( benar kata Dilan , ya) . Rindu itu paling menyakitkan, apalagi ketika Iyang merindukan bapak yang sudah tiada. Tapi Iyang belajar untuk selalu ikhlas, dan Iyang paham bahwa kepergian bapak itu adalah takdir, Allah selalu ada untuk mendengarkan segala doa - doa dan harapan.


Pak, air mata ini susah sekali berhenti, apalagi ketika Iyang membaca nama bapak di Pusara, perih sekali. Tak percaya namun ini memang kenyataan. Bapak sudah mendahului, bapak sudah nungguin kan disana? Kita bisa ketemu lagi kan pak? Iya, Iyang akan selalu mendoakan bapak supaya bapak dan kami semua bisa berkumpul lagi yah. Aamiin, yaa Allah.

 



Pak, semoga Allah berikan kemudahan untuk Iyang supaya bisa terus mendoakan bapak yah. Dan selalu bisa mengunjungi makam bapak serta membersihkannya. 




Pak, ratusan hari tanpa bapak itu benar - benar menyakitkan, sakit menahan rasa rindu pak. Tak pernah bosan Iyang berdoa, SEMOGA ALLAH AMPUNI SEGALA DOSA DAN KHILAF BAPAK. Aamiin yaa Allah. 


ROBBIGH FIRLI WA LIWALIDAYYA  

“Tuhanku! ampunilah Aku, ibu bapakku.” (QS. Nuh : 28) . 

 

ALLAHUMMAGHFIR LAHU WARHAMHU WA ‘AAFIHI WA’FU ‘ANHU WA AKRIM NUZULAHU WA WASSI’ MUDKHALAHU WAGHSILHU BILMAA`I WATS TSALJI WAL BARADI WA NAQQIHI MINAL KHATHAAYAA KAMAA NAQQAITATS TSAUBAL ABYADLA MINAD DANASI WA ABDILHU DAARAN KHAIRAN MIN DAARIHI WA AHLAN KHAIRAN MIN AHLIHI WA ZAUJAN KHAIRAN MIN ZAUJIHI WA ADKHILHUL JANNATA WA A’IDZHU MIN ‘ADZAABIL QABRI AU MIN ‘ADZAABIN NAAR



Love,


IYANG

Rabu, 06 Oktober 2021

101 Hari Tanpa Bapak, Makin Rindu

101 Hari Tanpa Bapak, Makin Rindu

Bismillah, 


Assalamualaikum bapak. Apa kabar bapak disana? 


Iyang selalu mendoakan bapak, setiap saat. Bukan hanya selepas shalat namun dikala Iyang rindu pun hanya bisa sampaikan lewat doa. 



Bapak, terasa sekali kehilangan bapak. Sudah 101 hari bapak meninggalkan kita semua. Artinya sudah tiga bulan lebih ya pak? Ah, waktu memang sangat cepat sekali berjalan, namun hati ini masih saja terpaut rindu. Rindu yang akan selalu ada untuk bapak.  


Bapak, memang selama bapak hidup Iyang jarang sekali share ke sosial media tentang bapak, enggak kayak orang - orang yang selalu share foto bareng bapaknya. Namun kita sama - sama tahu kalau Iyang sama bapak sangat dekat. Selama Iyang hidup, bapaklah yang tidak pernah marah. Bapak tidak pernah sekalipun membentak Iyang, padahal Iyang banyak salah. Sebagai anak Iyang belum bisa membuat bapak bangga, namun bapak malah pergi duluan. 


Sebelum bapak pergi, masih banyak cahaya. Namun sekarang, seakan dunia Iyang menjadi gelap. Namun tetap Iyang harus berjuang, masih ada mamah yang harus Iyang jaga dan bahagiakan. Karena mamah adalah orang yang paling bapak sayang, makanya Iyang harus menjaganya dengan segenap jiwa raga, iya kan Pak? 


Bapak selalu bilang, " Yang, mun mamah ambek tong dianggap, wios we. Mamah teh cape meureun". Makanya sampai sekarang Iyang akan selalu ingat nasihat bapak, untuk selalu menjaga hati mamah, jangan sampai luka. Semoga Allah mudahkan Iyang untuk selalu menjaga dan membahagiakan mamah ya pak. 


Ah, sudahlah, bukan saatnya Iyang menyesal. Dosa ya pak kalau Iyang terus menyesali kepergian bapak, pastinya bapak disana juga enggak bakalan tenang kalau melihat Iyang disini masih bertanya - tanya kenapa bapak pergi duluan. 




Tujuan kita sama ya pak? 

Surga Allah. Maka sekarang bapak udah duluan kesana dan nungguin kita disana. Semoga kelak kita bisa bertemu yah pak, di Surga Allah. Aamiin. 

Sekarang tugas Iyang hanya berbuat baik, mendoakan bapak dengan sebaik - baiknya doa dan bersedekah untuk bapak. Supaya bapak bisa merasakan cahayanya dalam kubur yah Pak. Sekarang, Iyang hanya berdoa semoga Allah sampaikan semua doa - doa dan sedekah untuk bapak, semoga Allah memberikan rahmatNYA untuk bapak. 



Pak, pas nulis ini Iyang gak nangis loh pak. Hebatkan? 

Biasanya kalau inget bapak, air mata langsung netes dan langsung sesegukan. Eh tapi ini mata udah perih, air mata udah numpuk disudutnya tapi engga jatuh, Iyang tahan pak. Karena Iyang mau menjadi anak perempuan bapak yang kuat dan tangguh. Anak perempuan yang bisa memberikan bapak kebahagiaan di akhirat meskipun di dunia Iyang belum bisa memberikan kebahagiaan. 


Pak, semoga bapak selalu bahagia ya pak. Semoga semua doa - doa yang Iyang panjatkan semoga bisa menjadi penerang kuburan bapak. Aamiin. 



Allaahummaghfir lahu warham hu wa’aafi hii wa’fu anhu . 

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira 



With love,


Tian lustiana 


Selasa, 20 Juli 2021

21 Hari Tanpa Bapak, Ikhlas

21 Hari Tanpa Bapak, Ikhlas

Bismillah, 

Bapak, 21 hari sudah bapak meninggalkan kita semua. Sepi, pak. Di rumah tidak ada lagi canda tawa bapak bersama cucu - cucu bapak. Biasanya, setelah shalat magrib, bapak bercanda dengan kedua cucu bapak, neng Marwah dan Akbar. Yang membuat rumah menjadi ramai. Namun sekarang sepi pak. 


Neng Marwah menangis sejadi - jadinya ketika menerima kabar bapak sudah berpulang, begitupun Iyang pak. Iyang menangis sejadi - jadinya juga, karena merasa tidak percaya bapak sudah meninggalkan kita semua. 





Pak, semua ini terasa mimpi. Namun ternyata ini adalah kenyataan yang harus Iyang terima. Kenyataan yang memang sulit Iyang terima, namun Iyang tetap ikhlas pak, Insya Allah bapak sudah tenang dan sudah berada di taman taman Surga menantikan kami semua. Aamiin. 


Pak, mungkin inilah yang orang sebut sebagai titik terendah dalam hidup. Mungkin ini rasanya patah hati yang sepatah - patahnya dalam hidup. Mungkin rasanya kehilangan separuh hidup, perih, luka, sakit hati ini. Biarkanlah waktu yang bisa menyembuhkan semua ini. 


Pak, disana bapak udah ketemu sama aki ya pak? Ketemu sama adik Iyang juga kah? Ah, mereka pasti senang bisa bertemu bapak yah, kalian pasti saling melepas rindu. 




Pak, sekarang setiap malam mamah ditemani neng Marwah. Karena mamah belum terbiasa sendiri. Mamah juga masih takut jika ada orang lain datang ke rumah, mamah masih trauma katanya pak. Kadang Iyang lihat mamah suka menangis sendiri sambil melihat foto bapak, mamah juga kangen sama bapak. Ya, kita semua kangen sama bapak. 


Pak, kemarin Akbar nanyain bapak. Katanya bapak di Surga makan apa? Akbar bilang juga bahwa bapak gimana minumnya disana, ah Akbar juga sangat merindukan bapak. Dia rindu sepedaan bareng bapak, rindu digendong bapak. Akbar juga akan selalu temani mamah, Akbar gak akan kemana - mana lagi seperti pesan bapak kok. 


Pak, neng Marwah juga sering Iyang lihat suka keluar air matanya kalau ingat bapak. Beruntung neng Marwah punya kakek sehebat bapak, yang sangat sayang sama neng Marwah. Kasih sayang bapak itu lebih besar dibandingkan kasih sayang Iyang ke neng Marwah, iya bapak kadang suka marah kalau Iyang marahin neng Marwah, katanya bapak suka sakit hati kalau Iyang marahin neng Marwah. 


Pak, Idul Adha ini keluarga kita kurban pak. Pakai uang bapak yang bapak tinggalkan. Semoga pahalanya sampai ke bapak ya pak. Hari ini tidak ada ketupat, opor ayam dan hidangan khas lebaran lainnya, karena yang paling suka makanan itu adalah bapak. Beda banget pokoknya lebaran idul adha tanpa bapak. Biasanya abis shalat isya kita suka bakar sate yah pak, terus bapak ngeluh aduh kok satenya keras, tapi sambil tetap dimakan. Ah kangen sekali melihat bapak makan dengan lahap. 


Pak, oiya Iyang lupa bilang kalau sekarang emak udah tahu bapak sudah gak ada , emak nangis pak sampai sesegukan. Emak ikhlas juga kok melepas bapak ke pangkuan Allah, hanya saja emak tidak menyangka secepat ini. Jangankan emak, Iyang dan semuanya pun gak pernah nyangka bakalan ditinggalin bapak secepat ini. Tapi kami ikhlas dan ridho kok pak, karena bapak pulang pada pemilik bapak, pada keabadian. 


Udah dulu yah pak, Iyang hanya ingin bilang Iyang sangat kangen bapak. Iyang kangen bapak video call dan chat minta dibeliin kepala ayam, usus ayam, sate dan makanan favorite bapak lainnya. Ah, Iyang hanya bisa sampaikan rindu dalam doa saja, semoga bisa sampai ke bapak ya pak, bapak disana yang tenang yah pak, Insya Allah Iyang akan selalu kirimkan doa untuk bapak. 


Iyang udah sehat pak, mamah juga sehat, neng Marwah, Akbar dan kami semua udah sehat dan siap menjalani hidup seperti biasa walau agak berat tapi kami pasti bisa. Tenang pak, Iyang akan selalu menjaga mamah dan berusaha selalu membahagiakan mamah, semoga Allah mudahkan. 

Sampai bertemu di Surga kelak yah pak, insya Allah kita akan berkumpul kembali. 


7 Hari Tanpa Bapak 

14 Hari Tanpa Bapak  



Dengan segenap rindu dan cinta untuk bapak,



Iyang

Minggu, 11 Juli 2021

14 Hari Tanpa Bapak, Patah Hati

14 Hari Tanpa Bapak, Patah Hati

Bismillah, 

14 hari tanpa bapak, rasanya patah hati pak. 


Masih terasa mimpi, bapak sudah pergi ke Surga Allah Subhanahuwata'ala. 

Rasanya, hampa pak. Kosong dan hilang semangat. 

Namun, Iyang harus tetap berjuang menjalani hidup ini. Demi mamah, demi neng Marwah cucu kesayangan bapak, demi suami, demi adik - adik dan tentunya demi melanjutkan kebaikan bapak. 



Memang berat pak, berat sekali. Belum pernah terbayangkan kami disini melanjutkan hidup tanpa bapak, tapi bagaimanapun kami harus tetap ikhlas karena ini semua ketetapan dari Allah subhanahuwata'ala. 


Biasanya, Iyang selalu menantikan bapak pulang kerja. Setelah melihat bapak ada, hati ini tenang dan baru bisa pulang. 

Tapi sekarang, Iyang nungguin bapak tapi bapak engga pulang - pulang. Ternyata bapak memang sudah pulang, tapi gak kembali ke rumah yah pak. Bapak pulang kepada pemilik sesungguhnya, Allah subhanahuwataa'la. 



Iyang hanya bisa kirim doa untuk bapak, itu cara Iyang menyampaikan rindu, rindu setiap saat pada bapak. 

Hanya doa anak bapak, sedekah dan ilmu yang bermanfaat dari bapak yang bisa Iyang lakukan sekarang, untuk menyampaikan rindu. Untuk menyatakan cinta dan sayang pada bapak. 


Bapak, bapak pasti selalu menantikan doa - doa kami kan? Tenang pak, kami anak bapak akan selalu mendoakan bapak, semoga bapak ditempatkan di tempat yang indah disisi Allah bersama orang - orang yang saleh dan beriman, aamiin. 


Ya Allah, ampunilah dosa - dosa bapak. Terangilah dan lapangkanlah kuburnya, jauhkan bapak dari siksa kubur dan siksa api neraka, tempatkanlah bapak bersama orang - orang soleh dan beriman disisiMU yaa Rabb, aamiin. 


Ya Allah, sampaikan rindu saya untuk bapak. Sampaikan saya selalu merindukannya, titip doa ini untuk bapak ya Rabb, titip rindu untuk bapak. 


Hari ke - 7 Tanpa Bapak 


 With love, 


Tian Lustiana



Senin, 05 Juli 2021

Hari Ke - 7 Tanpa Bapak

Hari Ke - 7 Tanpa Bapak

Bismillah, 

Bagaikan ditusuk pedang, sakit hati ini ketika mendengar bahwa orang yang paling sayang dan paling menyayangi saya sudah tiada, Bapak sudah pergi selama - lamanya. 

Hari ke tujuh tanpa bapak, iyang masih harus menjalani hidup demi mamah, Marwah, suami, adik - adik dan keluarga, juga demi bapak. Iya supaya Iyang bisa mendoakan bapak, bersedekah untuk bapak, dan menebarkan semua kebaikan - kebaikan yang sudah bapak ajarkan pada Iyang. 

Hari ketujuh tanpa bapak, hati Iyang masih luka, masih sedih dan masih sering menangis. Maafkan yaa Rabb bukan hamba tidak ikhlas, insya allah hamba ikhlas, namun hamba masih terluka saja. 

Hari ini, tujuh hari kami tanpa bapak. 

Hampa sekali pak, biasanya setiap jelang malam kami menantikan bapak pulang. 

Namun sekarang, bapak tak kunjung pulang, karena bapak sudah pulang pada pemiliknya. 


Bapak sudah pulang pada keabadian. 

Bapak, ini baru hari ketujuh tanpa bapak. Rasanya itu hampa, hampa sekali

Seperti hati ini luka namun entah luka yang mana, yang pasti perih. 

Bapak, iyang belum tahu sampai kapan luka ini ada, yang pasti mungkin akan selalu ada. 

Luka hati ditinggalkan bapak, bapak yang sangat kami sayangi dan bapak yang sangat menyayangi kami. 


Ya Allah, ku titipkan bapak.

Jauhkan bapak dari siksa kubur, lapangkan kuburannya, terangilah kuburnya

Ya Allah yang maha pengampun 

ampunilah semua dosa dan khilap bapak selama hidup 

Ya Allah yang maha penyayang

sayangilah bapak, sebagaimana bapak sangat sayang pada keluarganya


Semoga bapak berada disisi Allah

ditempatkan di tempat yang paling Indah

aamiin yaa Rabb 




Bandung , 05 Juli 2021 

25 Zulqo'dah 1442 H 


Tian Lustiana