My Covid Story (Part 1) , Kehilangan

Bismillah, 

Qadarullah, saya dan keluarga harus kena virus yang ngehits itu. Gimana perasaan saya? Hancur, sedih, karena dalam waktu bersamaan kami semua tepar karena virus yang menyebalkan itu. 


Gimana bisa kena? 

Qadarullah, ini semua kehendak Allah. 


Saya akan ceritakan awalnya, bukan untuk menyalahkan hanya untuk mengingatkan dan merunutkan saja yang terjadi. 


Awalnya tanggal 13 Juni 2021 , nenek, kahfi,neng Marwah, tante nomor 4 dibawa sama  tante nomor 3 dan suaminya makan di IP. Setelah itu, tanggal 15 Juni 2021 nenek (emak) sakit, badannya demam dan kami langsung bawa ke Dokter. Dokter menyarankan untuk swab, namun sayangnya kami abaikan, karena kami mengira hanya demam biasa. 




Jelang dua hari dari emak sakit, mamah dan tante nomor 4  juga ikutan sakit. Badannya demam dan ada batuk, kami masih belum ngeh bahwa ini adalah ulah si virus yang menyebalkan itu.


FYI, kami tinggal di rumah berbeda. Jadi kami berbagi kondisi hanya via chat. Ternyata tante nomor 3 dan suaminya pun sakit, padahal belum bertemu dengan emak. Saya kira tante nomor 4 dan mamah saya sakit karena tertular emak, ya karena mamah ngurusin emak selama dua hari sebelum mamah sakit juga. 


Di rumah mamah, bapak ikutan sakit. Demam dan ada batuk juga, namun bapak bilang ah sakit biasa besok juga sembuh. 


Hingga hari ahad, 20 Juni 2021 mamah mengeluhkan bahwa mamah tidak bisa mencium aroma kayu putih, ga bisa nyium sanitizer, jleb hati saya langsung mengarah ke si virus durjana ini. Dan langsung menyarankan mamah untuk swab antigen. Mamah pun langsung swab antigen dan hasilnya positif, kami semua limpung. Dan menyarankan untuk swab semua, karena ada kontak erat. 


Nenek dan tante pun langsung swab antigen, hasilnya? POSITIF juga. Termasuk tante nomor 3 dan suaminya, mereka langsung PCR dan hasilnya POSITIF. Hati saya lemah, lunglai seketika. 


Senin, 21 Juni 2021 tepat neng Marwah ulang tahun. Saya, ipar, neng Marwah dan keponakan langsung swab antigen juga, kami semua positif kecuali ipar saya yang negatif. 

Hati saya hancur, lemah. Kenapa harus barengan? Kami tidak bisa saling menguatkan jika sakit semua. Namun bapak nelepon dan menguatkan, "iyang kuat, sabar ya pasti sembuh". Itu yang menjadi motivasi untuk saya sehat kembali, sampai akhirnya ternyata bapak yang tidak kuat, bapak yang lebih dulu pergi, tambah hancur hati saya.

Kami semua saling menguatkan via WAG. saling berkabar kondisi kami masing - masing. Saya terus tanyakan kabar mamah dan bapak. Mamah kondisi masih lemah, batuk dan penciuman yang hilang. Saya khawatir karena mamah punya komorbid asma. Sementara bapak hanya keluhkan batuk, bapak tidak mau diswab, katanya ah pasti ikutan positif juga, bapak istirahat aja weh, gitu katanya. 

Bapak ke dokter, kata dokter bapak ada masalah dengan lambung dan juga ada batuk, jadi hanya diberikan obat sesuai keluhan saja, tidak ada gejala lain apalagi gejala yang menunjukkan terpapar virus. 


Selasa, 22 Juni 2021 . Saya dan neng Marwah masih belum ada gejala yang berarti, hanya batuk dikit. Nafsu makan kami alhamdulillah masih bagus, bawaannya ingin makan terus karena lapar. Apalagi neng Marwah, neng selalu ingin makan. Buah - buahan dan sayuran yang saya masak selalu habis sama neng Marwah, hati saya pun senang melihatnya. 


Rabu, 23 Juni 2021. Saya mulai merasa lemas, pusing dan semua badan sakit. Batuk mulai agak aktif, kalau jalan dikit saja langsung terasa sesak. Solat pun kalau sedang pusing sambil tiduran. Kadang sambil duduk, tidak kuat kalau solat sambil berdiri. 

Chat kabar mamah dan bapak, menurut mamah beliau sudah agak mending, batuk sudah reda. Hanya lemas . Namun bapak, menjadi batuk katanya namun gapapa, ga parah. Bapak masih lahap makannya. Hati saya tenang. 


Kamis, 24 Juni 2021 . Mamah mengabarkan bahwa bapak batuk aktif. Karena biasanya bapak tuh cocok dengan obat batuk actifed maka dikasi obat batuk itu saja, soalnya dari dokter tidak manjur, batuk makin aktif. 

Sementara kondisi saya sama, batuk aktif dan sesak nafas. Neng Marwah alhamdulillah enggak ada gejala. Suami mulai merasa linu badannya dan batuk juga. 

Setiap jelang maghrib, kondisi tubuh saya lemah dan demam, tapi besok siangnya biasa lagi. 


Jumat, 25 Juni 2021. Bapak makannya lahap lagi, ingin makan kikil padang dan juga pesan rujak. Karena kikil gak ada jadinya dibeliin cincang padang sama adik ipar, ah makasih sekali ya Aci, yang sudah urus mamah dan bapak selama sakit, terimakasih.

Mamah sudah engga ada gejala, hanya lemas saja. Bapak batuknya makin aktif namun tetap tidak mau dibawa ke dokter lagi. 

Kondisi saya masih batuk aktif dan sesak kalau kena air dingin atau kalau berjalan. Suami juga batuk dan tidak bisa tidur sejak kemarin. Tidurnya tidak nyaman dan selalu kebangun, entah apa sebabnya. Alhamdulillah neng Marwah sehat. 


Sabtu, 26 Juni 2021. Mamah bilang bapak ingin makan sate maranggi, langsung saya orderkan via gojek. Namun bapak hanya makan 2 tusuk sate saja, batuknya makin aktif. 

Mamah kondisinya membaik, katanya hari ini sudah bisa cuci piring. makan juga sudah mulai enak, jadi mamah bisa melayani bapak yang batuknya aktif banget. Mamah cerita, bapak sudah agak mulai susah tidur karena batuk. Vitamin juga sudah males minum, obat juga harus selalu dipaksa mamah. 

Menurut adik ipar kondisi bapak lemah, bibirnya sampai bergetar pas bicara. Duh gusti andaikan saya sehat ingin langsung kesana lihat kondisi mamah dan bapak. Ya Allah jaga selalu kedua orang tua hamba, hanya itu doa yang saya panjatkan. Saya ingin kami semua sehat kembali. 


Ahad, 27 juni 2021, mamah mengabarkan bapak masuk UGD RS Santo Yusup karena batuk yang tak kunjung reda dan ada sesak nafas juga. Seketika hati saya down, dan batuk yang saya rasakan makin hebat, sesak nafas juga. Hasil swab menyatakan bapak pun positif, duh ya rabb makin hancur hati saya. 

Bapak tidak jadi dirawat karena ruang isolasi Covid dan ruang ICU covid nya full, jadi bapak pulang, dengan batuk dan masih sesak nafas. Mencari oksigen susah sekali, yaa Rabb. Ahad malam itu, bapak engga bisa tidur kata mamah. Nafasnya sesak dan batuknya terus menerus, membuat wajah bapak semakin pucat, makanan pun sudah tidak ada yang masuk. 


Senin, 28 Juni 2021. Saya chat mamah menanyakan kabar bapak, katanya bapak tidur pun enggak mau pakai bantal. Makanan hanya bubur saja yang masuk, tapi bapak makan jeruk juga. Obat dan vitamin agak susah diminum, harus dipaksa dulu baru mau. 

Hati saya langsung lemah, entah mengapa. Perasaan campur aduk takut ditinggalkan bapak. Ya Rabb sehatkanlah bapak, hanya itu doa yang saya rapalkan. Hingga sekitar pukul 12.30 an adik ipar nelepon bilang bahwa bapak enggak mau bangun lagi, bapak sudah tidak bernafas.

Seketika hati saya hancur, seakan langit ini runtuh menimpa tubuh. Jantung saya seakan keluar dari tubuh. Saya menjerit memanggil nama bapak, yaa Rabb kenapa secepat ini bapak harus pergi.

Pukul 12.30 Bapak akhirnya bisa tidur, tidur untuk selamanya. Batuk dan sesak nafas yang bapak rasakan, sudah hilang semuanya. Hilang bersama dengan tangisan kami. Saya langsung ke rumah mamah dan bapak, saya tak peduli dengan kondisi kesehatan saya, saya harus ketemu bapak untuk terakhir kalinya. 

Saya, suami dan Marwah langsung ke rumah mamah bapak. Kondisi kesehatan kami lupakan sejenak, yang kami inginkan hanya ingin bertemu bapak, untuk terakhir kalinya. 

Batuk saya masih aktif dan sesak nafas, saya abaikan. 


Sesampainya di rumah mamah bapak, saya langsung menjerit memanggil dan membangunkan bapak, namun bapak tak kunjung bangun. Bapak tidur dengan sangat pulas, wajahnya begitu tenang tanpa beban. Bapak tidur, ini bapak pingsan bukan meninggal. Ucapku menenangkan diri sendiri, padahal aku sadar bapak sudah dipanggil Allah. Bapak sudah tenang disisi Allah. 


Bapak Rahimanullah, dimandikan oleh tim Rumah Sakit dan adik saya, Ridwan. Jenazah bapak Rahimanullah diurus secara protokol kesehatan, bapak disemayamkan di Cikadut, seharusnya bapak disemayamkan di Taman Makam Pahlawan, karena bapak memiliki bintang Nararya, namun takdir Allah berkehendak lain, dimanapun kuburan mu pak yang penting bapak sudah tenang, disisi Allah subhanahuwata'ala. 


Selamat jalan pak, bapak sekarang sudah tidak sakit lagi, bapak sudah bisa tidur nyenyak. Bapak sudah enggak sesak nafas lagi kan? Batuknya juga sudah hilang. 

Tenanglah pak, kami ikhlas. Kami semua akan selalu mendoakan bapak. Meski hati kami sakit, namun kami ridho dan ikhlas, ini merupakan ketetapan dan takdir Allah. Kami hanya bisa menerima dengan ikhlas, meski masih luka. 


Pak, semua kebaikan bapak akan kami teruskan. Bapak orang baik, saya bersaksi. Bapak yang selalu bertanggung jawab atas keluarganya, bapak orang baik, orang soleh, saya bersaksi. 


Selasa, 29 Juni 2021. Bapak disemayamkan di Cikadut, pemakaman khusus Covid di Bandung. 

Kondisi kesehatan saya makin drop, batuk aktif dan sesak nafas tak terelakkan lagi. Apalagi ketika saya nangis, merindukan bapak. Saturasi saya dibawah 80, ya Rabb panjangkan umurku dan sehatkan saya lagi, itu doa yang selalu saya panjatkan. 

Saya sampai di nebu dan oksigen. Ke Rumah sakit? Tidak, saya enggak mau karena pasti penuh, jadi saya pasrah dan terus berdoa semua Allah masih memberikan umur dan kesempatan saya untuk kembali sehat. 


Sungguh, virus ini sudah membuat saya kehilangan seorang bapak. ya Rabb segera enyahkan virus ini dari muka bumi, sehatkan kembali bumi ini. Semoga kami menjadi orang - orang baik dan beriman, semoga kami menjadi orang - orang soleh yang selalu menjalankan semua perintahMu dan menjauhi semua laranganMU. aamiin. 


Insya allah akan saya sambung ke postingan lain. terimakasih sudah mau membaca, tolong titip doa terbaik untuk almarhum bapak saya , ( Ate Lukmanadin bin H. Sahman ) . 

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

 

Allaahummaghfir lahu warham hu wa’aafi hii wa’fu anhu wa akrim nuzula hu wa wassi’ madkhola hu waghsil hu bilmaai wats-tsalji walbarodi wanaqqi hi minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadlu minaddanasi wa abdil hu daaron khoiron min daari hi wa ahlan khoiron min ahli hi wazaujan khoiron min zaoji hi wa adkhil hul jannata wa ‘aidz hu min ‘adzaabil qobri wa fitnati hi wa min ‘adzaabin naar.


Terimakasih untuk semua yang sudah membantu pemakaman bapak, semoga Allah selalu melimpahkan rezeki dan berkahnya, aamiin. Semoga selalu diberikan kesehatan dan keselamatan, aamiin. 


Baca : My Covid Story (part 2) 


With love,



Tian lustiana



29 komentar

  1. Doa terbaik untuk Tian & keluarga.
    Insya Allah Bapak dimudahkan jalannya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Allahumaamiin, haturnuhun teh Dey. Sehat selalu yah

      Hapus
  2. Hi, kak Tian dan keluarga.
    Tetap semangat dan kuat, ya..

    Kita punya kesamaan karena ditinggal sosok kepala keluarga untuk selamanya akibat virus yang jahat itu.

    Semoga Pak Ate Lukmanadin diterima semua amal ibadahnya disisi Allah SWT. AMIN

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih, semoga bapaknya mas Achmad juga diberikan tempat terindah disisi Allah, aamiin.

      Aamiin terimakasih doanya.

      Hapus
  3. Innallillahi turut berduka cita, tetap jaga kesehatan dan stay strong Mbak. Semangat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mbak Anisa, insya allah tetap semangat. Sehat selalu yah mbak.

      Hapus
  4. Turut berduka sedalam-dalamnya ya Teh.
    Memang, pandemi ini memorakporandakan banyak hal.
    InsyaALLAH kita kuaaattt, dan ttp bertahan yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya , terimakasih.

      Insya Allah kuat, semangat.

      Hapus
  5. innalilahi wa innalillahi rajiun

    Al-Fatihah ...

    semoga almarhum bapak husnul khotimah

    selalu kuat dan sabar ya say,

    insyaallah bapak sudah beristirahat dengan tenang

    BalasHapus
  6. Innalillahi wainnailaihi rojiun. InsyaAllah ayahandanya khusnul khotimah ya, mbak. Semoga ayahnya mendapatkan surga terbaik. Semoga mbak dan keluarga yang sedang berjuang untuk sembuh, bisa disegerakan sehat, aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya allah. Husnul Khatimah. Aamiin terimakasih

      Hapus
  7. Innalilahi wa'innailahi rojiuun. Turut berdukacita ya Mbak Tian. Semoga almarhum Bapak husnul khotimah, diterima amal ibadahnya dan dilapangkan jalannya menuju surga.

    BalasHapus
  8. Innalilahi wa Inna ilaihi roji'un. Ikut berduka Teh Tian. Semoga alm diberikan tempat terindah di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan keikhlasan. Teteh sekarang udah isoman Hari ke berapa? Saya doain moga Teteh dan keluarga yang sakit cepat membaik dan kembali sehat ya. Big Hug, Teh. Hanya bisa mendoakan dari jauh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin yaa rabb. Sekarang udah beraktivitas seperti biasa teh Lia, alhamdulillah sudah negatif. Aamiin makasih banyak doa nya.

      Hapus
  9. Innalillahi wa innalillahi rojiun semoga ayahanda khusnul khotimah. Yg sabar kak Semoga dimudahkan jalan menuju surga aamiin

    BalasHapus
  10. :( Aku baca kisah ini di tengah memperjuangkan hal yang sama.

    Turut berduka ya mbak, semoga bapak husnul khotimah. Amin. Sehat-sehat yaaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga sehat - sehat yah. Aamiin terimakasih

      Hapus
  11. Semoga bapak Teh Tian diampuni segala dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan tegar dan dalam keadaan sehat, aamiin

    BalasHapus
  12. Qodarullah semua yang terjadi atas kehendak Illahi, umat manusia berusaha dan berdoa. Tetap menjadi bagian keluarga yang meneruskan kebaikan beliau dan menjaga silaturahmi.

    BalasHapus
  13. Turut berduka cita ya kak atas kepergian ayahandanya. Membaca semua cerita kakak di atas tentu saja menjadi pelajaran penting juga bagi kami semua.

    Virus COVID-19 memang ada, dan saya sendiri juga pernah terserang COVID-19 yaitu demam dan penciuman dan rasa hilang. Saya juga sempat dikasih wedang jahe tapi gak ngerasa kalo itu jahe. Pikir saya waktu itu, "gila ini saya" dan saya menebak memang kena COVID-19 karena saya batuk kering, lemas, demam, hilang rasa dan penciuman, pusing.

    BalasHapus
  14. Innalillahi wa innailaihi rojiun
    Ikut berduka cita atas kehilangan yang dirasakan mbak..
    semoga sehat selalu ya mbak
    ceritanya menjadi pengingat untuk selalu menjaga kesehatan

    BalasHapus
  15. Pastinya siapapun bisa saja ya terpapar virus ini Mba. Semua sudah terjadi atas kehendak Allah SWT yah. Semoga tetap bisa terus berusaha yang terbaik untuk melawan virus ini. Tetap semangat ya Mba.

    BalasHapus
  16. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Turut berduka cita sedalam-dalamnya ya Tian. Insha Allah bapak sudah berada di tempat terbaik di sisi Allah SWT.

    Kuatlah dan terus bertahan, semoga semuanya kembali baik-baik saja. Peluk virtual buat Tian :)

    BalasHapus
  17. Innalillahi wainna ilaihi rojiun, mba Tian yang tabah ya sekeluarga
    kami sekeluarga juga sedang diberikan ujian sakit, ada orangtua sepuh juga di rumah jadi kudu bangkit dan lekas pulih. Mba Tian sekeluarga semoga diberikan kekuatan menghadapi.

    BalasHapus
  18. Al Fatihah untuk bapak ya Mbak..

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentarnya dimoderasi, oiya kalau komentarnya ada link hidup dengan berat hati saya hapus komentarnya yah.
EmoticonEmoticon