Apakah pasien tidak berhak tahu merk obat yang diberikan dokter???

by - 11:26:00 AM


Sekarang sedang gencar - gencar orang - orang mensosialisasikan BPJS, sebenarnya saya sudah tahu tentang ini dari awal tahun 2014. Namun saya akhirnya memutuskan untuk membuat BPJS pada awal bulan November 2014, karena setelah saya baca dan telaah dari beberapa masyarakat yang menggunakan BPJS mereka puas dengan pelayanannnya. Bahkan biaya bersalin pun diclaim, saya langsung senang mendengarnya. Dan oke, aku daftar. Saya daftarkan juga Marwah dengan kelas 1 dan saya sendiri kelas 2. Lalu saya diberikan virtual account dan kartu bpjs nya. 


Tanggal 05 Desember 2014, saya ingin membawa Marwah ke spesialis kulit. Namun karena saya menggunakan bpjs, jadi saya pikir lebih baik saya menggunakannya, kan gratis. Saya ikuti prosedur awal untuk ke faskes tingkat pertama yakni puskesmas, saya disarankan untuk ke puskesmas Babakan Sari Kiaracondong sesuai dengan kecamatan yang tertera di ktp saya. Sesampainya disana sekitar jam 11, karena memang Marwah harus sekolah dulu. Di puskesmas saya lihat lengang, hanya ada satu orang saja yang mengantri. Senang sekali, karena pasti tidak akan memakan waktu lama, pikir saya saat itu. 

Setelah daftar, saya bergegas ke ruang tunggu, disana kosong. hanya ada satu gadis perempuan yang sedang membuat surat keterangan sehat untuk melamar kerja. Satu jam berlalu, saya bersama si gadis itu masih menunggu dengan tidak ada antrian di ruangan dokter sama sekali. Saya tidak melihat kesibukan diantara pegawai puskesmas itu selain mereka sedang menjajal pakaian yang dijual temannya, sayangnya saya tidak memoto kejadian itu. Setelah satu setengah jam, akhirnya nama Marwah dipanggil. 


Karena sedang renovasi juga, jadi saya masuk keruangan yang banyak sekali meja - meja. Disana ada dokter berkerudung cokelat yang menanti kami. Lalu si dokter menanyakan keluhan anak saya, saya menceritakan keluhannya bahwa Marwah suka gatal - gatal dan ada banyak bentol dikakinya, saya takutnya ini alergi udara, makanan atau virus. Saya asyik sendiri menceritakan keluhan Marwah pada sang dokter. Namun kemudian dokter hanya melihat dari kursinya tanpa mendekatkan kaki marwah atau menyentuh kaki Marwah untuk memeriksa lebih detil lagi, melihat sekelebat saja dan kemudian mengetikkan sesuatu dikomputernya. ketika saya meminta surat rujukan kepadanya untuk ke spesialis kulit di Rumah sakit. Saya meminta rujukan ini karena saya melihat tidak ada klinik specialist kulit di puskesmas ini. Namun si dokter langsung menolak dan beliau bilang harus disembuhkan di puskesmas. Dan beliau langsung meminta saya untuk ke bagian obat tanpa memberikan saya resep terlebih dahulu, mungkin mereka sudah membuat link server sehingga tidak memerlukan lagi surat resep. Saya tidak tahu. 


Saya pun diberikan tiga macam obat dari ibu - ibu yang menjadi petugas dibagian obat. Sambil mengobrol dan mengunyah gorengan sang ibu itu menyerahkan tiga macam obat untuk Marwah. Ketika saya menanyakan obat pil kuning itu obat apa, si ibu tidak menjawab. Saya menanyakan kembali nama obat itu, dan ibu itu bilang tanpa merk. Sambil kemudian ibu ini meneruskan makan dan ngobrolnya. Saya berlalu pergi dengan perasaan yang sangat dongkol. haruskah saya memberikan obat pada Marwah, sementara saya tidak tahu apa obat itu dan untuk apa? apakah pasien tidak berhak tahu obat apa yang diberikan dokter? 

Apakah puskesmas identik dengan pegawai yang judes, menyepelekan pasien? Maaf sekali, kami menggunakan bpjs ini bayar, bukan gratis. jadi wajar jika kami pengguna bpjs menginginkan pelayanan yang baik. Saya mohon untuk puskesmas Babakan Sari Kiara condong Bandung untuk lebih meningkatkan lagi pelayanan prima terhadap pasien tanpa memandang siapa si pasien, mau si kaya atau si miskin. Karena sebenarnya kami tidak mau sakit kok, kami ingin sehat selalu sehingga tidak ke puskesmas. 


FYI, obat yang diberikan Dexamethasone, pil kuning, dan sale hydrocortisone. 



Saya menuliskan ini tidak bermaksud untuk menjatuhkan siapapun, saya hanya ingin berbagi pengalaman saja menggunakan bpjs. Dan semoga ini bisa dijadikan acuan untuk perbaikan semua puskesmas di Indonesia. 

You May Also Like

17 komentar

  1. Saya juga pernah dicuekin sama petugas Puskesmas. Saya jarang sekali ke Puskesmas. Biasanya ke rumah sakit swasta . Kebetulan semua biaya dicover kantor.Namun pernah suatu kali saya datang ke Puskesmas karena ada perlu. Dan pelayanannya tidak ramah. Hiks...Btw baru tau kalau BPJS bisa buat berobat jalan mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, kadang kita males ya menggunakan fasilitas itu jika memang para pegawainya judes :D. BPJS bisa dipake rawat jalan kok mbak

      Delete
  2. Hmmm ga ada fotonya ya Mak ibu-ibu tadi xixixi kepo... Tapi sering dapet cerita juga sih soal petugas Puskesmas yang begitu, meskipun mungkin tidak semuanya ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya saya tdk kpikiran buat foto para pegawai sedang menjajal baju jualan yah :D

      Delete
  3. Kadang yg kyk gini yg bikin males ya mak :(((

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener mak, tidak semuanya tapi segelintir org ini yg justru merusak citra yah :D

      Delete
  4. Kebetulan saya pakenya dokter umum Mak bukan di Puskesmas, jadi ya baru ngeh klo petugas kesehatan di situ enggak welcome sama sekali ke pasien. Nyebelin banget pastinya ya rasanya. Semoga setelah ada postingan ini ada yg baca dan dilakukan perbaikan kinerja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya saya memang gak pernah ke puskesmas, hanya ini kan menggunakan bpjs dan katanya prosedurnya hrs ke faskes 1 dulu alias puskesmas, bener mak nyebelin banget, pdhl ga gratisan yah. saya kan bayar juga

      Delete
  5. duh, bikin emosi jiwa heuheu...

    saya pernah pake hydrocortison, enak, adem dipakenya, & lgsg sembuh jg alerginya...

    ReplyDelete
  6. Dexametasone dan hidrocortisone bisa dicari di google. Lha pil kuning itu saya juga belum pernah melihatnya

    ReplyDelete
  7. bikin kesel ya mak, kalau ga ada penjelasan sama sekali, sama seperti saya pertama kali pake bpjs, padahal lagi sakit, suami tidak bisa antar karena jaga anak yang sakit juga dirumah, buat ngambil obat, saya disuruh tanda tangan kedua dokter yang jauhnya lumayan, sampei keleyengan, malah dijudesin juga ama petugasnya "kalau gada tanda tangan, ibu gabisa ambil obat"..aduh sakitnya tuh disini mak..:(

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah, mungkin mereka kurang bisa berkomunikasi baik dengan pasien, padahal komunikasi adalah hal yang sangat penitng dalam bersosialisasi. Sebenarnya bpjs nya ini tidak seribet yang dibayangkan, namun saya yakin semua keluhan mengenai bpjs adalah pure human error, so yang hrs diperbaiki ya SDM nya

      Delete
  8. wedew. tegur aja pegawai puskesmanya, yang. meuni kitu pisan nya. adeuh saya mah kompor mbeledugh, pasti saya udah damprat orangnya :D heuheuheuehu

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenarnya pengen negur tapi nahan diri dari emosi aja, soalnya bawa Marwah euy Lu. Kl ga bawa Marwah udah di damprat tuh dokter dan bagian obat, berhubung bawa Marwah dan Marwah lg tuturut munding sieun nurutan emosian :D wkkwkw

      Delete
  9. wedew. tegur aja pegawai puskesmanya, yang. meuni kitu pisan nya. adeuh saya mah kompor mbeledugh, pasti saya udah damprat orangnya :D heuheuheuehu

    ReplyDelete

Hallo, terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentarnya dimoderasi, oiya kalau komentarnya ada link hidup dengan berat hati saya hapus komentarnya yah.

www.tianlustiana.com. Powered by Blogger.
Copyrighted.com Registered & Protected 
WREV-N3SK-HW7L-NS8D