PSIKOLOGI TERBALIK ADALAH SEBUAH METODE

1:41:00 PM

Dalam proses konseling seorang konselor akan berupaya menggunakan berbagai macam teknik dan metode yang diharapkan sesuai dalam penyelesaian masalah bagi konselee yang meminta bantuannya.
Terkadang seorang konselor akan melakukan trial and error dalam proses konseling mengingat begitu banyak jenis masalah yang dihadapkan kepadanya. Sehingga memerlukan banyak metode yang sesuai dengan setiap masalah yang ada. Kerena setiap masalah dan konselee memiliki karakter yang berbeda sehingga dapat dikatakan tidak ada sebuah teknik yang benar-benar seratus persen cocok bagi individu dalam mengatasi masalahnya.
Namun setidaknya, seorang konselor memiliki landasan sekaligus pijakan ketika memasuki ranah permasalahan yang sejenis bagi setiap individu dengan modifikasi dan eksplorasi yang diperlukan.
Begitu pun dalam mengatasi masalah perilaku indisipliner siswa di sekolah yang merupakan masalah terbesar yang muncul sehingga memerlukan kreatifitas konselor dalam mencari dan menemukan metode yang cocok sebagai solusinya.
Tidak ada definisi pasti mengenai teori psikologi terbalik yang disebut juga reserve psychology. Teori ini dikeluarkan pertama kali oleh duo Adorno dan Horkheimer pada tahun 1970-an. Inti dari teori ini adalah mengatakan pada orang lain sesuatu yang berlawanan dengan apa yang ingin mereka lakukan atau percaya.
Teori ini memercayai bahwa orang akan merespon berlawanan atau kebalikan dari perintah yang diberikan kepada mereka. Mungkin sebagian dari masyarakat belum begitu memahami dengan istilah psikologi terbalik dalam berbagai konteks. Namun sebenarnya disadari atau tidak banyak kondisi dalam kehidupan sehari-hari yang menunjukkan pemberlakuan teori psikologi terbalik.
Misalkan saja ketika kita kecil dulu, saat kita bermain terlalu lama biasanya akan muncul teguran dari orang dewasa di sekitar kita dengan komentar: “Asyik ya main, lebih enak deh kalau pulangnya lebih malam lagi.” Atau ketika kita terlambat masuk kelas terkadang muncul komentar: “Kok jam segini sudah datang nanti saja kalau kelas sudah bubar.” Lalu apakah pernyataan tersebut akan benar-benar dilaksanakan? Pada kenyataannya, itu adalah sebuah sindiran tajam yang berarti harus melakukan yang sebaliknya dari ucapan tersebut.
Bahkan perilaku ini juga terdapat dalam pemikiran psikologi. Contohnya Viktor E. Frankl, pernah mencontohkan seorang gagu yang naik kereta namun tidak memiliki tiket. Ketika tukang pencatut tiket datang dia ingin menunjukkan bahwa ia gagu agar dikasihani, ajaibnya gagunya hilang.
Dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin mengenal kebenaran dari psikologi terbalik ini. Dengan memaksakan diri keberhasilan seringkali kita mengalami kegagalan karena tekana-tekanan yang ada. Di sini berlaku psikologi terbalik. Kenapa bisa terjadi demikian. Semakin kita menginginkan sesuatu itu menjadi beban dan akhirnya malah menjauhkan diri dari keinginan kita itu.
Mungkin ini disebabkan karena kita seringkali memaksakan diri kita dalam meraih sesuatu kita jadi merasa terbebani. Beban ini lah yang menyebabkan psikologi kita terbalik. Kadang ini bisa dimanfaatkan untuk mencapai tujuan. Chung Tzu pernah bercerita mengenai seorang pemanah yang mengikuti lomba. Ketika hadiahnya kecil, tidak ada masalah. Namun ketika hadiahnya besar tembakannya tidak akurat. Kadang pikiran kita dipenuhi oleh beban yang mengganggu kemampuan kita mencapai kesuksesan.
Begitu pun dalam wilayah kehidupan di sekolah sering berbenturan dengan berbagai macam perilaku indisipliner yang muncul pada diri siswa sehingga memerlukan penanganan yang tepat dan efektif demi terciptanya tata kehidupan sosial edukatif yang mendukung dan kondusif dalam proses pendidikan.
Metode psikologi terbalik dapat digunakan sebagai sarana dalam penanganan perilaku indisipliner siswa dimana siswa dengan perilaku indisipliner diminta untuk mereplay atau mengulang perilaku indisiplinernya pada saat itu juga.
Meskipun demikian, disarankan agar psikologi terbalik ini tidak digunakan secara berlebihan kepada siswa atau terus menerus. Atau dapat pula digunakan sebagai alternatif akhir dalam proses konseling. Karena dikhawatirkan siswa yang sering mendapatkan metode ini akan merasa dijatuhkan harga dirinya.



Dikutip dari berbagai sumber online :)


Best Regards,,,

Tyan Lustiana 

You Might Also Like

0 komentar

Hallo, terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Mohon maaf komentarnya dimoderasi, oiya kalau komentarnya ada link hidup dengan berat hati saya hapus komentarnya yah.

www.tianlustiana.com. Powered by Blogger.

Member Of

SUBSCRIBE

Like us on Facebook